Menu

Tugas Metode Riset Bab ii

BAB II
LANDASAN TEORI
1.       Teori Dasar
Dewasa ini semakin banyak peralatan canggih ,mesin , dan yang disertai dengan inovasi-inovasi kerja. Disamping semakin banyak terciptanya kemajuan tersebut, perusahaan harus memiliki manajer yang memiliki kemampuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan motivasi kerja kepada tiap karyawan guna mencapai tujuan perusahaan.
                Tujuan Perusahaan pada umumnya adalah mencapai keuntungan dan mempertahankan hidupnya dalam jangka panjang.
Untuk dapat mencapai tujun tersebut maka perusahaan melaksanakan kegiatannya dalam menggunakan faktor produksi yaitu alam, modal, skill, teknologi, ketrampilan tenaga kerja dan lain-lain. Salah satu faktor yang paling penting adalah tenaga kerja, karena teknologi yang sempurna bila tidak didukung oleh sumber daya alam yang berkualitas, maka perusahaan tidak akan mampu berjalan dengan baik. Sebagai pendorong sumber daya manusia untuk bekerja adalah motivasi, dalam kehidupannya manusia melakukan bermacam-macam aktivitas dan salah satunya adalah perilaku manusia itu sendiri. Perilaku manusia sekarang hanyalah cermin yang paling sederhana dari motivasi dasar mereka, sejalan dengan tujuan perusahaan maka antara motivasi dan permintaan perusahaan harus saling mendukung.
Adanya pemberian motivasi ini berarti telah memberikan kesempatan terhadap karyawan yang menjadi bawahannya sehingga karyawan bisa dan mampu mengembangkan kemampuannya. Motivasi secara sederhana dapat dirumuskan sebagai kondisi ataupun tindakan yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan semaksimal mungkin karyawan untuk berbuat dan berproduksi. Peranan motivasi adalah untuk mengintensifkan hasrat dan keinginan tersebut, oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa usaha peningkatan semangat kerja seseorang akan selalu terkait dengan usaha memotivasinya sehingga untuk mengadakan motivasi yang baik perlu mengetahui kebutuhan-kebutuhan manusia.
a. ) McClelland (dalam Robbins, 1995: 87) memusatkan pada tiga kebutuhan manusia yaitu:
1. Kebutuhan prestasi, tercermin pada keinginan karyawan mengambil tugas yang dapat di pertanggung jawabkan secara pribadi atas perbuatanperbuatannya;
2. Kebutuhan afiliasi, kebutuhan ini ditunjukkan adanya keinginan untuk bekerjasama, senang bergaul, berusaha mendapatkan persetujuan dari orang lain, melaksanakan tugas-tugasnya secara lebih efektif bila bekerja dengan orang-orang lain dalam suasana kerjasama; dan
3. Kebutuhan kekuasaan, kebutuhan ini tercermin pada seseorang yang ingin mempunyai pengaruh atas orang-orang lain.
Seorang karyawan mungkin melaksanakan pekerjaan yang diberikan kepadanya dengan baik dan ada yang tidak tujuan perusahaan dapat tercapai bila karyawan dapat melaksanakan tugas dengan baik, tetapi bila tidak maka pimpinan perusahaan perlu mengetahui penyebabnya. Biasanya penurunan semangat dapat terjadi karena kurang disiplin yang disebabkan oleh turunnya motivasi karyawan tersebut untuk itu pimpinan perusahaan harus dapat memberikan suatu motivasi kepada karyawannya sekaligus memberikan kepuasaan kerja terhadap karyawan sehingga dapat memberikan gairah kerja karyawan. Untuk dapat mengembangkan dan memberdayakan Sumberdaya Manusia, diperlukan motivasi kerja dan kepuasan kerja karyawan.
2.) Menurut Armstrong (1998: 97) menyatakan bahwa seorang karyawan yang tidak puas atas pekerjaannya dapat dimotivasi bekerja lebih baik lagi untuk memperbaiki dirinya.
Maka dengan adanya motivasi tinggi dan kepuasan kerja yang baik tercermin dari rasa tanggung jawab dan gairah kerja yang menciptakan suatu keinginan untuk bekerja dan memberikan sesuatu yang terbaik untuk pekerjaannya. Pentingnya motivasi dan kepuasan kerja menuntut pimpinan perusahaan untuk peka terhadap kepentingan karyawan. Pimpinan perusahaan melakukan pedekatan tidak hanya terhadap karyawan tetapi juga terhadap keluarga dan lingkungannya sehingga perusahaan tahu apa yang menyebabkan karyawan termotivasi dalam bekerja.
Motivasi yang tepat dan baik dapat meningkatkan dan menumbuhkan semangat kerja karyawan dan kepuasan kerja karyawan, dan akan menambah semangat kerja karyawan dalam bekerja karena dengan adanya gaji atau upah yang sesuai bagi karyawan maka dengan demikian akan tercapai kinerja karyawan yang tinggi. Jadi dapat disimpulkan bahwa motivasi dan kepuasan kerja merupakan faktor penentu dalam mencapai kinerja karyawan. Diharapkan dengan adanya motivasi dan kepuasan kerja dapat mencapai tujuan perusahaan yang diinginkan.
Banyak orang beranggapan bahwa kepuasan kerja karyawan lebih banyak ditemukan dengan tingginya tingkat upah dan aspek finansial lainnya. Hal ini merupakan anggapan yang kurang benar sebab masih banyak factor lainnya yang mempengaruhi tingkat kepuasaan kerja hal ini dibuktikan bahwa hubungan antar karyawan maupun antara pimpinan dan bawahan sangat menentukan tingkat kepuasaan kerja.
Kepuasaan kerja merupakan keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan para karyawan memandang pekerjaan mereka. Peningkatan kepuasan kerja merupakan salah satu segi dari keefektifan perusahaan, keefektifan dalam suatu organisasi atau dalam perusaahan dapat dicapai melalui kelancaran proses komunikasi antar pihak dalam perusaahaan yang pada akhirnya memperlancar perusahaan tersebut.
Selain itu juga kepuasaan kerja karyawan dipengaruhi oleh promosi, menurut Flippo (dalam Siagian, 2002: 95) Promosi adalah kesempatan bagi karyawan untuk maju, mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dan biasanya disertai dengan gaji yang lebih besar atau lebih tinggi. Dengan demikian dapat dikatan bahwa promosi jabatan berhubungan erat dengan kepuasan kerja karyawan.
3.) Menurut As’ad (1995: 104) pada dasarnya kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individual. Setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai-nilai yang berlaku pada dirinya.

2.       Tinjauan Riset Terdahulu

Abdul Aziz ( 1998 ) dengan judul Pengaruh Motivasi, Disiplin, dan Ethos Kerja Terhadap Produktivitas Karyawan yang telah Mendapatkan Pelatihan/Menerapkan Gugus Kendali Mutu (GKM) Studi Kasus di Unit Kerja Bakri PT Perkebunan Nusantara VII Lampung memberikan kesimpulan bahwa motivasi, disiplin, dan ethos kerja terhadap produktivitas karyawan yang telah mendapatkan pelatihan /menerapkan GKM secara bersama-sama mempunyai kontribusi terhadap perubahan produktivitas kerjanya.

3.       Hipotesis

Ada pengaruh yang signifikan antara motivasi , kepuasan kerja karyawan , serta disiplin dalam pelatihan terhadap kinerja karyawan untuk mencapai tujuan perusahaan.

FEMMY FERDIANY
3EA11
16209232

Tugas diberikan oleh Pak Prihantoro

TUGAS SOFTSKILL PERILAKU KONSUMEN

BAB I
PENDAHULUAN

I.1.  Latar Belakang
1.      Perilaku  Konsumen,  Pemikiran yang benar tentang  konsumen,  dan  Penelitian  konsumen  sebagai  bidang  dinamis.
Dalam  kehidupan  ekonomi  tentunya  kita  sering  mengenal  kata  konsumen.  Konsumen  memiliki  keputusan  untuk memilih  barang  yang hendak  dibeli.  Dalam  perilaku  konsumen  kita  dapat  mengetahui  bagaimana  cara  konsumen  memilih  barang  yang  menjadi  pilihan  konsumen.  Pengertian  perilaku  konsumen  itu  sendiri  adalah  proses  dan  aktivitas  ketika  seseorang  berhubungan  dengan  pencarian,  pemilihan,  pembelian,  penggunaan,  serta  pengevaluasian  produk  dan  jasa  demi  memenuhi  kebutuhan  dan  keinginan.  Proses pengambilan  keputusan  harus  diambil  dengan pemikiran  yang matang.  Pemikiran  yang  benar  tentang  konsumen  adalah  bahwa  konsumen  yang  memiliki  hak  dalam  pelayanan  terhadap  penjual  yang  berkewajiban  melayani  konsumen  dengan  baik  agar  mendapat  kesan  yang  baik  dari  konsumen  sehingga  konsumen  tertarik  untuk  membeli  barang  tersebut. Penelitian  konsumen  sebagai  bidang  dinamis  yakni  bahwa  konsumen  memiliki  sifat  yang  berbeda-beda.  Bahkan  seorang  konsumen  dapat  berganti-ganti  selera  sesuai  pola  pikir,  daya  beli,  maupun  rasa,  maka  hal  yang berubah-ubah  dari  suatu  perilaku  konsumen  itu  merupakan  hal yang  wajar.  Maka  dari  itu  kedinamisan  yang ada  pada  perilaku  konsumen  harus  disesuaikan  oleh  para  produsen  yang  wajib  menciptakan  inovasi-inovasi  baru  dalam  memproduksi  barang. Terdapat  tiga  pendekatan  utama  dalam  meneliti  perilaku  konsumen.   Pendekatan  pertama  adalah  pendekatan  interpretif.  Pendekatan  ini  menggali  secara  mendalam  perilaku konsumsi  dan  hal  yang  mendasarinya.  Studi  dilakukan  dengan  melalui  wawancara  panjang  dan  focus  group discussion  untuk  memahami  apa  makna  sebuah  produk  dan  jasa  bagi  konsumen  dan  apa  yang  dirasakan  dan  dialami  konsumen  ketika  membeli  dan  menggunakannya.  Pendekatan  kedua  adalah  pendekatan  tradisional  yang  didasari  pada  teori  dan metode  dari  ilmu  psikologi  kognitif,  sosial,  dan  behaviorial  serta  dari  ilmu  sosiologi.   Pendekatan  ini  bertujuan  mengembangkan  teori  dan  metode  untuk  menjelaskan  perliku  dan  pembuatan  keputusan  konsumen.  Studi  dilakukan


melalui  eksperimen  dan  survey  untuk  menguji  coba  teori  dan  mencari pemahaman  tentang  bagaimana  seorang  konsumen  memproses  informasi,  membuat  keputusan,  serta  pengaruh  lingkungan  sosial  terhadap  perilaku  konsumen.  Pendekatan  ketiga  disebut  sebagai  sains  marketing  yang  didasari  pada  teori  dan  metode  dari  ilmu  ekonomi  dan  statistika.  Pendekatan  ini  dilakukan  dengan  mengembangkan  dan  menguji  coba model  matematika  berdasarkan  hirarki  kebutuhan  manusia  menurut  Abraham  Maslow  untuk  memprediksi  pengaruh  strategi  marketing  terhadap  pilihan  dan  pola  konsumsi,  yang  dikenal  dengan  sebutan  moving  rate  analysis.

2.      Segmentasi pasar  &  analisis  demografi,  segmentasi  pasar,  dan  rencana  perubahan.

            Segmentasi  pasar  merupakan  sebuah   metode  bagaimana  memandang pasar  secara  kreatif.  Kita  perlu  secara  kreatif  mengidentifikasi  dan  memanfaatkan  peluang  yang  muncul  di  pasar  (Hermawan  Kertajaya).  Segmentasi  pasar sangatlah  penting  di  dalam  bisnis  dan pemasaran.  Walaupun  kita  tidak  boleh  mengiris-iris  pasar  terlalu  kecil,  segmentasi  pasar  tetaplah  suatu  hal  yang  harus  dipelajari dalam  membangun  usaha.  Segmentasi  demografo  memberikan  gambaran  bagi  pemasar  kepada  siapa  produk  ini  harus  ditawarkan.  Jawaban  atas  pertanyaan  kepada  siapa  dapat  berkonotasi  pada  umur,  jenis  kelamin,  jumlah  anggota  keluarga,  siklus  kehidupan  keluarga  seperti  anak-anak,  remaja,  dewasa,  kawin  atau  belum  kawin,  keluarga  muda  dengan  satu  anak,  dan sebagainya.  Dapat  pula menurut  tingkat  penghasilan,  pendidikan,  jenis  pekerjaan,  pengalaman,  agama,  dan  keturunan.  Kemudian  mengenai  rencana  perubahan  tentunya  seperti  yang  sudah  dibahas  sebelumnya  perusahaan  harus  mengatur  sedemikian  rupa  perubahannya  sesuai  dengan  perilaku  konsumen  yang telah  di  analisis  menurut  analisa  demografinya.
3.      Proses  Pengambilan  Keputusan  Oleh  Konsumen.
            Proses  pengambilan  keputusan  pembelian  terdiri  dari  lima  tahap:  pengenalan  kebutuhan,  pencarian  informasi,  pengevaluasian  alternatif,  keputusan  pembelian,  dan  perilaku  setelah  pembelian.  Jelas  bahwa  proses  pembelian  berlangsung  jauh  sebelum  pembelian  aktual  dan  berlanjut  jauh  sesudahnya.  Pasar  perlu  berfokus  pada  seluruh  proses  pengambilan  keputusan  pembelian  bukan  hanya  pada  proses  pembeliannya  saja.  Secara  teori  konsumen  melalui  seluruh  lima  tahap  pada  tiap  pembelian.  Tapi  pada  pembelian  rutin,  konsumen  terkadang  melewatkan  atau  membalik  beberapa  tahap  itu.  Seorang  remaja  yang kadang  membeli  parfum  merek  yang  biasa  digunakannya  akan  mengenali  kebutuhan  tetapi  dia  akan  bergerak  langsung  ke  proses  pembelian,  dengan  melewatkan  pencarian  informasi  dan  mengevaluasi  alternatif.  Pertimbangan  yang  muncul  pada  saat  konsumen  menghadapi  situasi  pembelian  baru  bisa  bersifat  kompleks.

I.2.  Tujuan
1.       Perilaku  Konsumen,  Pemikiran yang benar tentang  konsumen,  dan  Penelitian  konsumen  sebagai  bidang  dinamis.
            Dengan  memahami  sikap  konsumen  dalam  menghadapi  sesuatu,  seseorang  dapat  menyebarkan  ide  dengan  lebih  cepat  dan  efektif.  Ketiga  pendekatan  pada  latar  belakang  diatas   sama-sama  memiliki  nilai  dan  tinggi  dan  memberikan  pemahaman  atas  perilaku  konsumen  dan  strategi  marketing  dari  sudut  pandang  dan  tingkatan  analisis  yang  berbeda.  Sebuah  perusahaan  dapat  saja  menggunakan  salah  satu  atau  seluruh  pendekatan,  tergantung  permasalahan  yang  dihadapi  perusahaan  tersebut.
2.      Segmentasi pasar  &  analisis  demografi,  segmentasi  pasar,  dan  rencana  perubahan.
            Memiliki beberapa tujuan yang diantaranya sebagai berikut: 
a.       Perusahaan  akan  dapat  mendeteksi  secara  dini  dan  tepat  mengenai  kecenderungan  dalam  pasar  yang  senantiasa  berubah.
b.      Dapat  mendesign  produk  yang  benar-benar  sesuai  dengan  permintaan  pasar.
c.       Dapat  menentukan  periklanan  yang  paling  efektif.
d.      Dapat  mengarahkan  dana  promosi  yang  tersedia  melalui  media  yang  tepat  bagi  segmen  yang  diperkirakan  dapat  menguntungkan  yang  lebih  besar.
e.       Dapat  digunakan  untuk  mengukur  usaha  promosi  sesuai  dengan  masa  atau  periode-periode  dimana  reaksi  pasar  cukup  besar.

3.  Proses  Pengambilan  Keputusan  Oleh  Konsumen.
            Tujuan  dari  proses  ini  adalah  sebagai  berikut: 
a.       Mengetahui  faktor-faktor  yang  mempengaruhi  pemecahan  masalah  dalam  pengambilan  keputusan.
b.      Mendiagnosa  perilaku  konsumen  sehingga  kita  dapat  mengetahui  hasil  dari  analisis  perilaku  konsumen.
Dengan  cara  itu,  perusahaan  dapat  mempelajari  secara  baik  kerja  perusahaan  tersebut  dan  bagaimana  meningkatkannya.  Perusahaan  3M  mengaku  lebih  dari  dua  per  tiga  produk  barunya  datang  dari  mendengarkan  keluhan  konsumen.  Tetapi  mendengar  saja  tidak  cukup  perusahaan  harus  menanggapi  dengan  baik  setiap  keluhan  yang  diterima.

BAB II
PEMBAHASAN

1.      Perilaku  Konsumen,  Pemikiran yang benar tentang  konsumen,  dan  Penelitian  konsumen  sebagai  bidang  dinamis.
Pemahaman  akan  perilaku  konsumen  dapat  diaplikasikan  dalam  beberapa  hal,  yang  pertama  adalah  untuk  merancang  sebuah  strategi  pemasaran  yang  baik,  misalnya  menentukan  kapan  saat  yang  tepat  perusahaan  memberikan  diskon  untuk  menarik  pembeli.  Kedua,  perilaku  konsumen  dapat  membantu  pembuat  keputusan  membuat  kebijakan  publik.  Misalnya  dengan  mengetahui  bahwa  konsumen  akan  banyak  menggunakan  transportasi  saat  lebaran,  pembuat  keputusan  dapat  merencanakan  harga  tiket  transportasi  di  hari  raya  tersebut.  Aplikasi  ketiga  adalah  dalam  hal  pemasaran  sosial  (social marketing),  yaitu  penyebaran  ide  di  antara  konsumen.  Dengan  memahami  sikap  konsumen  dalam  menghadapi  sesuatu,  seseorang  dapat  menyebarkan  ide  dengan  lebih  cepat  dan  efektif.
      Roda  analisis  konsumen  adalah  kerangka  kerja  yang  digunakan  marketer  untuk  meneliti,  menganalisis,  dan  memahami  perilaku  konsumen  agar  dapat  menciptakan  strategi  pemasaran  yang  lebih  baik.  Roda  analisis  konsumen  terdiri  dari  tiga  elemen: afeksi  dan  kognisi, lingkungan, dan perilaku.
Pertama  adalah  afeksi. 
Afeksi  merujuk   pada  perasaan  konsumen  terhadap  suatu  stimuli  atau  kejadian,  misalnya  apakah  konsumen  menyukai  sebuah  produk  atau  tidak.  Kognisi  mengacu  pada  pemikiran  konsumen,  misalnya  apa  yang  dipercaya  konsumen  dari  suatu  produk.  Afeksi  dan  kognisi  berasal  dari  sistem  yang  disebut  sistem  afeksi  dan  sistem  kognisi.  Meskipun  berbeda,  namun  keduanya  memiliki  keterkaitan  yang  sangat  kuat  dan  saling  memengaruhi.  Sistem  kognisi  terdiri  dari  lima  proses  mental,  yaitu:  memahami,  mengevaluasi,  merencanakan,  memilih,  dan  berpikir.  Proses  memahami  adalah  proses  menginterpretasi  atau  menentukan  arti  dari  aspek  tertentu  yang  terdapat  dalam  sebuah  lingkungan.  Mengevaluasi  berarti  menentukan  apakah  sebuah  aspek  dalam  lingkungan  tertentu  itu  baik  atau  buruk,  positif  atau  negatif,  disukai  atau  tidak  disukai.  Merencanakan  berarti  menentukan  bagaimana  memecahkan  sebuah  masalah  untuk  mencapai  suatu  tujuan.  Memilih  berarti  membandingkan  alternatif  solusi  dari  sebuah  masalah  dan  menentukan  alternatif  terbaik,  sedangkan  berpikir  adalah  aktifitas  kognisi  yang  terjadi  dalam  ke  empat proses  yang  disebutkan.

sebelumnya.  Fungsi   utama  dari  sistem  kognisi  adalah  untuk  menginterpretasi,  membuat  masuk  akal,  dan  mengerti  aspek  tertentu  dari  pengalaman  yang  dialami  konsumen.  Fungsi  kedua  adalah  memproses  interpretasi  menjadi  sebuah  task  kognitif  seperti  mengidentifikasi  sasaran  dan  tujuan,  mengembangkan  dan  mengevaluasi  pilihan  alternatif  untuk  memenuhi  tujuan  tersebut,  memilih  alternatif,  dan  melaksanakan  alternatif  itu.  Besar  kecilnya  intensitas  proses  sistem  kognitif  berbeda-beda  tergantung  konsumennya,  produknya,  atau  situasinya.  Konsumen  tidak  selalu  melakukan  aktifitas  kognisi  secara  ekstensif,  dalam  beberapa  kasus,  konsumen  bahkan  tidak  banyak  berpikir  sebelum  membeli  sebuah  produk.
2.      Segmentasi pasar  &  analisis  demografi,  segmentasi  pasar,  dan  rencana  perubahan.
Pengusaha  yang  melakukan segmentasi  pasar  akan  berusaha  mengelompokkan  konsumen  kedalam  beberapa  segmen  yang  secara  relatif  memiliki  sifat-sifat  homogen  dan  kemudian  memperlakukan  masing-masing  segmen  dengan  cara  atau  pelayanan  yang  berbeda.
Peranan  segmentasi  dalam  marketing  :
1.      Memungkinkan  kita  untuk  lebih  fokus  masuk  ke  pasar  sesuai  keunggulan  kompetitif  perusahaan  kita.
2.      Mendapatkan  input  mengenai  peta  kompetisi  dan  posisi  kita  di  pasar.
3.      Merupakan  basis  bagi  kita  untuk  mempersiapkan  strategi  marketing  kita  selanjutnya.
4.      Faktor  kunci  mengalahkan  pesaing  dengan  memandang  pasar  dari  sudut  unik  dan  cara  yang  berbeda.
Cara-cara  dalam  memandang  suatu  pasar  :
1.      Static  attribute  segmentationCara  memandang  pasar  berdasarkan  geografis  dan  demografi.  Geografis  berarti  kita  melihat  pasar  berdasarkan  wilayah  (negara,  kawasan,  propinsi,  kota).  Demografi  berati  kita  melihat  pasar  berdasarkan  jenis  kelamin,  usia,  pekerjaan,  agama, dan  pendidikan.
2.      Dinamic  attribute  segmentationCara  memandang  pasar  berdasarkan  sifat-sifat  dinamis  yang  mencerminkan  karakter  pelanggan.  Segmentasi  ini  melihat  pasar  berdasarkan  psikografis  dan  perilaku.  Psikografi  meliputi  lifestyle,  kepribadian.  Perilaku  berupa  sikap,  penggunaan,  dan  respon  pelanggan  terhadap  produk.
Lebih  lanjut  mengenai  demografi,  psikografi  dan  pasar  relung:
1.      Demografi.  Ini  merujuk  data  statistik  penduduk,  termasuk  pendapatan,  rata-rata  umur,  dan  pendidikan.  Kalau  menurut  Hermawan,  demografi  ini  termasuk  dalam  Static  Attribute  Segmentation,  atau  cara  memandang  pasar  berdasarkan  geografis  dan  demografi.  Geografis  berarti kita melihat pasar berdasarkan wilayah (negara, kawasan, propinsi, kota). Sedangkan demografi berati kita melihat pasar berdasarkan jenis kelamin, usia, pekerjaan, agama dan pendidikan.
2.      Psikografi. Psikografi adalah menggunakan demografi dalam menentukan perilaku dan selera segmen tertentu suatu populasi. Psikografi mengkaji gaya hidup seperti kemana mereka berlibur, kemana mereka berbelanja, bagaimana mereka membelanjakan uang ekstra, olahraga apa yang mereka tonton, dan masih banyak lagi yang lain. Kalau menurut Hermawan (lagi), psikografi termasuk dalam Dynamic Attribute Segmentationatau cara memandang pasar berdasarkan sifat-sifat dinamis yang mencerminkan karakter pelanggan. Segmentasi ini melihat pasar berdasarkan psikografis dan perilaku. Psikografi meliputi lifestyle atau kepribadian seperti yang saya sebutkan diatas. Perilaku berupa sikap, penggunaan dan respon pelanggan terhadap produk.
3.      Pasar relung. Ada segmen kecil dari populasi yang memiliki kesamaan karekteristik, kepentingan, kebiasaan berbelanja dan sebagainya.

3.  Proses  Pengambilan  Keputusan  Oleh  Konsumen.
Model  proses  pengambilan  keputusan
A.    Menurut  Herbert  G.Hick  dan C.  Ry  Gullet
1.      Model  Probabilitas
Membahas  mengenai  kemungkinan  yang  terjadi  pada  masa  yang  akan  datang  terhadap  suatu  peristiwa  tertentu  dan  nilai  harapan  atas  terjadinya  peristiwa  tersebut.
2.      Model  Matriks
model  ini  diterapkan  untuk  menayangkan  secara  khusus  perpaduan  antara  beberapa  strategi  atau  alternatif  yang  digunakan  serta  nilai  atau  hasil  yang  diharapkan  pada  masing-masing  strategi  atau  alternatif.
model  ini  terdiri  atas  dua  hal  pokok,  yaitu  :
-  Garis  yang  menggambarkan  berbagai  strategi  atau  alternatif  dipakai  sebagai  dasar  pengambilan  keputusan.
-  Lajur  yang  menggambarkan  kondisi  dalam  situasi  yang  berlainan  pada  masing-masing  alternatif  strategi.
B.     Menurut  B.A Fisher
1.      Model Preskriptif/Normatif
Menjelaskan  tentang  bagaimana  seharusnya  suatu  kelompok  mengambil  keputusan  dengan  cara  memberikan  pedoman  dasar,  agenda,  jadwal  dan  urutan  yang  membantu  kelompok  mencapai  konsensus, penerapan  ini  meliputi  lima  langkah  (orientasi,  evaluasi,  pengawasan,  pengambilan  keputusan,  dan  pengendalian  )
2.      Model Deskriptif
Model  ini  memberikan  informasi  yang  dibutuhkan  kepada  manajer  untuk  membuat  keputusan  dan  tidak  menawarkan  penyelesaian  masalah  faktor-faktor  yang  mempengaruhi  keputusan.
Pengambilan  keputusan  baik  pribadi  maupun  kelompok  dipengaruhi  oleh  lima  faktor  yang  akan  berpengaruh  terhadap  pembentukan  suatu  model  keputusan,  antara  lain  :
-  keadaan  lingkungan  dan  nilai-nilai  yang  sering  kali  berlawanan
-  pengaruh  politik
-  emosionalisme
-  tingkat  pendidikan
-  model  keputusan  faktual
C.     Menurut  E.S  Quade
1.      Model Kualitatif
model  ini  didasarkan  pada  asumsi  yang  tingkat  ketepatannya  masih  kurang  dibandingkan  dengan  model  kuantitatif.  Model  ini tepat  untuk  mengatasi  masalah-masalah  sosial.
2.      Model  Kualitatif
Model  ini  didasarkan  pada  asumsi  yang  tepat  dan  dinyatakan  dalam  serangkaian  hubungan  matematis  yang  pasti.  Ciri  pokok  model  ini  yaitu  digunakan  secara  lengkap  melalui  asumsi-asumsi  dana  kesimpulannya  berupa  konsekuensi  logis  dari  asumsi  yang  tanpa  menggunakan  pertimbangan  intuisi  tentang  praktik  dunia  nyata.
Tipe  Proses  Pengambilan  Keputusan  Oleh  Konsumen
4  tipe  proses  pembelian  yang  diterapkan  oleh  konsumen,  antara  lain  :
a.  Complex  Decision  Making  Process
     Proses  ini  biasanya  terjadi  bila  keterlibatan  tinggi  pada  pengambilan  keputusan  terjadi.  Contohnya  pengambilan  keputusan  untuk  membeli  mobil  atau  motor.  Dalam  hal  ini  konsumen  secara  aktif  mencari  informasi-informasi  yang  dibutuhkan  untuk  dijadikan  bahan  pertimbangan  dengan  menetapkan  kriteria  tertentu  atas  barang  tertentu.
b.  Brand Royalty Process
     Terjadi  saat  konsumen  menggunakan  pengalaman  masa  lalunya  terhadap  suatu  barang,  apakah  memuaskan  atau  tidak,  untuk  membeli  kembali  barang  tersebut  atau  untuk  melakukan  pembelian  ulang.
c.  Limited  Decision  Making  Process
     Dalam  proses  ini  kadang-kadang  konsumen  melakukan  pengambilan  keputusan  meskipun  konsumen  tidak  memiliki  keterkaitan  kepentingan  yang  tinggi,  konsumen  hanya  memiliki  sedikit  pengalaman  masa  lalu  atas  produk  atau  barang  tersebut.
d.  Inertia  Process
    
Tingkat  kepentingan  atas  barang  rendah  dan  tidak  ada  pengambilan  keputusan.  Inertia  berarti  konsumen  membeli  merek  yang  sama  sekali  bukan  karena  loyal  kepada  merek  tersebut,  tetapi  karena  tidak  ada  waktu  yang  cukup  dana  ada  hambatan  untuk  mencari  alternatif,  proses  pencarian  informasi  pasif  terhadap  evaluasi  dan  pemilihan  merek.
Faktor  Yang  Mempengaruhi  Pemecahan  Masalah
A.   Masalah  Sederhana  (  simple  problem  )
      -  ciri  :  memiliki  kaitan  erat  dengan  masalah  lain,  menagndung  konsekuensi  besar,  pemecahannya  memerlukan  pemikiran  yang  tajam  dan  analitis.
      -  scope  :  pemecahan  masalah  dilakukan  secara  kelompok  yang  melibatkan  pimpinan  dan  segenap  staf  pembantunya.
      -  Jenis  :  masalah  yang  terstruktur  dan  masalah  yang  tidak  terstruktur.
B.   Masalah  Rumit  (complex  problem)
      -  definisi  :  masalah  yang  jelas  faktor  penyebabnya ,  bersifat  rutin  dan tibul  berulang  kali,  sehingga pemecahan  masalahnya  dilakukan  pengambilan  keputusan  yang  bersifat  rutin  dan  dibakukan.
      -  contoh  :  masalah perijinan,  penggajian, dan  sebagainya.
      -  sifatnya  :  relatif  lebih  mudah  atau  cepat,  salah  satu  caranya  dengan  penyusunan  metode  atau  prosedur  atau  pula  program  tetap  (SOP).
C.  Masalah  Terstruktur
      -  definisi  :  penyimpangan  dari  masalah  organisasi  yang  bersifat umum,  tidak  rutin,  tidak  jelas  faktor  penyebab  dan  konsekuensinya,  serta  tidak  repetitif  kasusnya.
      -  sifat  pengambilan  keputusan  :  relatif  lebih  sulit  dan  lebih  lama,  diperlukan  teknik  PK  yang bersifat  non-programmed  decision  making.
D.  Masalah  Yang  Tidak  Terstruktur
Pendefinisian  Masalah  Yang  Baik  :
 -  fakta  dipisahkan  dari  opini  atau  spekulasi,  Data  objektif  dipisahkan  dari  persepsi.
-   semua  pihak  yang  terlibat  diperlakukan  sebagai  sumber  informasi/
-   masalah  harus  dinyatakan  secara  eksplisit/tegas,  untuk  menghindari  dari  pembulatan  definisi  yang  tidak  jelas.
-   definisi  yang  dibuat  harus  menyatakan  dengan  jelas  adanya  ketidaksesuaian  antara  standar  atau  harapan  yang  telah  ditetapkan  sebelumnya.
-  definisi  yang  dibuat  harus  menyatakan  dengan  jelas  pihak-pihak  yang  terkait  atau berkepentingan  dengan  terjadinya  masalah.
-  definisi  yang  dibuat  bukanlah  seperti  sebuah  solusi  yang  samar.


BAB III
PENUTUP

 Kesimpulan
1.      Perilaku  Konsumen,  Pemikiran yang benar tentang  konsumen,  dan  Penelitian  konsumen  sebagai  bidang  dinamis.
pandangan  terhadap  sifat-sifat  konsumen  dengan  fungsi  sebagai   strategi  marketinga  atau  maupun  bila  kita  yang  bertindak  sebagai  konsumen  dalam  mengambil  keputusan  membeli  barang. 

2.      Segmentasi pasar  &  analisis  demografi,  segmentasi  pasar,  dan  rencana  perubahan.
Dari  pembahasan  diatas  dapat  disimpulkan  bahwa  segmentasi  pasar  sangat  perlu  untuk  memperoleh  pelanggan-pelanggan   yang  potensial  dalam  usaha  pemasaran. 

3.        Proses  Pengambilan  Keputusan  Oleh  Konsumen.
Perusahaan  yang  bijaksana  perlu  mengukur  kepuasan  konsumen  secara  teratur.  Perusahan  tersebut  tidak  dapat  semata-mata  mengandalkan  konsumen  yang  tidak  puas  yang  secara  sukarela  menyampaikan  keluhannya  kepada  perusahaan.  Sebesar  96  persen  konsumen  yang  tidak  senang  tidak  pernah  menyampaikan  keluhannya.  Perusahaan  harus  membangun  sistem  yang  mendorong  konsumen  menyampaikan  keluhannya.


sumber